Disable Preloader

Detail Berita

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Tanjungpura (FMIPA Untan) adakan Pelatihan Konservasi Penyu Focus Group Discussion (FGD) Pengelolaan dan Mitigasi Bencana Daerah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil di Wilayah Kalimantan Barat. Ketua Pelaksana Dr. Rafdinal, S.Si., M.Si. melaporkan, tujuan dilaksanakan acara tersebut adalah untuk menyampaikan pentingnya konservasi penyu dan pengkajian pengelolaan mitigasi bencana daerah pesisir di Kalbar,  Selasa (19/6/2021).

Menurut Dosen dari Jurusan Biologi FMIPA Untan itu, penyu tidak hanya terancam dari segi habitatnya tapi juga terancam keberlanjutan hidupnya. Kemudian, penyu juga sarat dengan nilai-nilai kultural masyarakat pesisir. Selain masalah konservasi penyu, dalam beberapa bulan terakhir Kalimantan Barat juga sedang hangat-hangatnya dengan isu banjir, kebakaran, masalah abrasi, dan bencana alam lainnya.

Saat diwawancarai, Doktor Rafdinal mengungkapkan alasan diadakannya kegiatan pelatihan dan FGD hari ini (29/6). Menurutnya, Fakultas MIPA Untan sebagai institusi pendidikan yang juga konsen pada dua permasalahan tersebut merasa perlu untuk mengadakan kegiatan yang bersifat edukatif dan kolaboratif.

"Melalui kegiatan ini, kita harap mahasiswa dan pencinta satwa di Kalimantan Barat bisa memahami urgensi pelestarian kehidupan penyu. Terkait mitigasi bencana, kita tahu bahwa Kalbar merupakan daerah yang cukup labil karena berada di daerah pesisir dan delta. Tentunya ini sangat rawan sekali dalam hal pengelolaannya," ungkapnya.

"Ini juga menjadi catatan untuk kita semua bahwa perlu ada kajian mendalam untuk pengelolaan masa depan, khususnya dalam pemanfaaatan sumber daya alam di pesisir dan pulau-pulau kecil yang ada di Kalimantan Barat," tambahnya.

Ia menyebut, hingga sejauh ini terjadi tumpang tindih dalam sistem pengelolaan daerah pesisir dan konservasi di Indonesia dan Kalimantan Barat secara khususnya. Seperti keberadaan daerah konservasi yang dikelola Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan daerah pesisir yang juga bagian dari konservasi dijadikan objek wisata oleh Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Diporapar), serta daerah pesisir yag juga di kelola oleh Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL).

"Di satu sisi ada BKSDA, satu sisi ada BPSPL, ada Dinas Perikanan, Dinas Pariwisata dan ada juga Disporapar. Beberapa programnya tidak tersinkron, ini menjadi tantangan bagi kita semua. Sehingga dengan kegiatan ini, kita harap mahasiswa bisa tahu dengan cakupan kerja dari masing-masing lembaga tersebut," ucapnya.

Mengakhiri percakapan wawancaranya, Doktor Rafdinal berharap FGD bisa menjadi titik temu stakeholder terkait dalam menentukan porsi lingkup kerjanya.

"Sehingga dengan berdiskusi secara bersama-sama kita bisa menentukan porsinya masing-masing agar tidak tumpang tindih," tutupnya.

Acara pelatihan konservasi penyu dan FGD pengelolaan mitigasi bencana berlangsung di Hotel Mercure Pontianak. Diikuti sebanyak 110 orang, 60 peserta hadir langsung di Mercure dan sisanya hadir via Zoom Meeting.

Selain diikuti oleh mahasiswa dan alumni, peserta kegiatan juga diikuti oleh mahasiswa dari Jurusan Manajemen Sumber Daya Perairan Fakultas Pertanian Untan dan mahasiswa Fakultas Kehutanan Untan, serta dosen dari berbagai Program Studi yang terkait dengan bidang konservasi dan mitigasi kebencanaan.

Satu diantara peserta, Topang Gunawan berkesan, acara pelatihan sangat bagus dan bermanfaat untuk mahasiswa/i yang menekuni bidang tersebut. Terkait masalah konservasi, mitigasi dan global warming, Topang berharap acara pelatihan ini bisa terus diadakan ke depannya agar mahasiswa dan masyarakat dapat paham akan pentingnya menjaga lingkungan.

"Karena masih pandemi, semoga pandemi ini bisa cepat berlalu. Semoga pelatihan seperti ini bisa sering diadakan ke depannya, sehingga dapat membuka wawasan dari para mahasiswa untuk menjaga lingkungan. Sedikit tidaknya, kita harus bersahabat dengan lingkungan," ucap Mahasiswa yang berfokus pada Studi Oseanografi di Jurusan Ilmu Kelautan FMIPA Untan itu.

Kemudian, Leader Lembaga Sosial Masyarakat Borneo Eco Friendly itu juga berpesan, mahasiwa/i Ilmu Kelautan dan peserta lainnya yang hadir dalam acara pelatihan bisa terus aktif menyuarakan kampanye yang sifatnya grass root (akar rumput) terkait lingkungan dan kebencanaan.

"Grass root merupakan strategi kampanye yang sangat bagus untuk berogranisasi saat ini, strategi kokoh dari bawah ke atas," tutup Topang.

 

(Liputan TIK FMIPA Untan/Dapi)

Share :

Kategori Berita: Agenda