Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahua Alam Universitas Tanjungpura (FMIPA Untan) kembali adakan World Class Professor Program (WCPP). Tema yang di usung dalam WCPP Scheme 2 hari ini ialah “Trend Riset Kimia”, Kamis (10/10/2020).
WCPP lanjutan ini diikuti sebanyak 150-an peserta dari beberapa daerah di Indonesia. Peserta yang hadir berasal dari kalangan mahasiswa, dosen dan peneliti.
Narasumber yang hadir sebagai pemateri juga berasal dari kalangan dosen dan peneliti di bidang kimia. Menariknya, ada dua profesor yang menjadi narasumber. Mereka adalah Prof. Dr. H. Thamrin Usman DEA, Guru Besar Kimia Agroindustri FMIPA Untan dan Prof. Dr. Sri Juari Santosa, M.Eng, Guru Besar Departemen Kimia Universitas Gaahmada.
Sementara itu dua narasumber lainnya berasal dari Jurusan Kimia FMIPA Untan, diantaranya Dr. Ari Widiyantoro, M.Si dan Berlian Sitorus, Ph.D. Masing-masing narasumber memaparkan materi yang berbeda, namun masih dalam lingkup ilmu kimia.
Acara seminar yang dimoderatori oleh Dr. Gusrizal, M.Si ini berlangsung di Aplikasi Zoom Meeting. Semua peserta yang terdata oleh panitia melalui presensi kehadiran akan diberikan sertifikat.
Materi seminar dibagi menjadi 4 sesi. Materi pertama disampaikan Profesor Thamrin Usman. Rektor Untan dua periode itu menyampaikan materi “Trend Riset Agrokimia”. Kemudian, materi ke-2 dipaparkan oleh Profesor Juari. Ia memaparkan materi tentang “Trend Riset Kimia Terkini untuk Menjawab Permasalahan Global”.
Berdasarkan trend riset yang diperolehnya, Prof Juari menyebutkan bahwa kontribusi penelitian dan sitasi tertinggi di negara maju berada di bidang kedokteran, kesehatan, dan engineering.
“Berdasarkan data dan fakta tadi bahwa negara maju prioritasnya adalah kedokteran, kesehatan dan engineering; sementara di Indonesia physics dan engineering,” sebut Prof Juari.
Ia menambahkan, dalam cakupan kompetitif sitasi bidang kimia di ASEAN, Indonesia selevel dengan Vietnam dan sedikit lebih tinggi dari Myanmar. Hal ini disebabkan oleh masih rendahya kontribusi sitasi dari para peneliti di bidangnya.
“Sumbangan kita dalam memberikan dokumen yang disitasi dalam bidang kimia masih relatif rendah,” tambah Profesor Juari.
Ketua Prodi S3 Kimia UGM periode 2016-2020 lalu itu menutup materi presentasinya dengan paparan analisis SWOT dari perkembangan ilmu Kimia dan potensinya di Indonesia. Potensi yang dapat mendukung pesatnya perkembangan ilmu kimia kedepannya adalah karena Indonesia memiliki reservoir panas bumi tertinggi di dunia, Indonesia juga negara kedua di dunia yang memiliki tingkat keanekaragamanhayati terbesar. Selain itu, Indonesia juga merupakan negara kedua di dunia yang memiliki garis pantai terbesar dan mempunyai populasi terbanyak di dunia untuk negara yang beriklim tropis.
Materi berikutnya dipaparkan oleh Dr. Ari Widiyantoro, M.Si, dengan tema “Trend Riset Kimia Bahan Alam Berpotensi Obat”. Materi terakhir disampaikan oleh Berlian Sitorus, Ph.D, dengan tema “Trend Riset Nanomaterial”.
Berlian Sitorus menjelaskan tentang apa itu nanomaterial, bidang-bidang ilmu yang terkait dengan nanomaterial, aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari dan kontribusinya terhadap bidang ilmu lainnya seperti pada nanosains, nanoteknologi, nanomedicine, nanodevices, nanoenergy dan nanobiokteknologi. Di akhir materinya, ia juga memaparkan riset-riset yang sudah, sedang dan akan dikerjakannya kedepannya.
Setelah sesi materi selesai, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Peserta sangat antusias dalam sesi ini. Satu diantara peserta menanyakan dampak dari dibenturkannya productivity dengan suintanaibility pemanfaatan agroindustri sebagai bahan energi kepada Prof Thamrin.
Kemudian Guru Besar Kimia Agroindustri itu menjawab, tidak ada pertentangan kedua nilai tersebut.
“Pada intinya tidak ada pertentangan antara productivity dan suistainability dalam pemanfaatan agroindustri sebagai bahan energi,” jawab Prof Thamrin.
Peserta lainnya menanyakan strategi untuk meningkatkan jumlah sitasi dokumen penelitian di Indonesia.
“Kita harus lebih berani menampilkan sitasi riset-riset teman-teman yang di Indonesia. Kalau hal ini dijalankan secara konsisten, saya yakin sitasi di Indonesia dapat terus meningkat. Stretegi kedua, kita harus berani tampil dan bekerja sama dengan instansi atau peneliti-peneliti ahli lainnya. Kalau kita bisa masuk ke situ, maka nama kita akan masuk juga ke dalam penelitian para peneliti ahli tadi,” jawab Prof Juari.
Menjawab pertanyaan tadi, Profesor Juari menjelaskan detail cara dan memberikan contohnya. Ia bergabung dengan penelitian kandidat peraih nobel dari Jepang dan mengirimkan dua mahasiswanya untuk belajar riset di penelitian tersebut. Strategi tersebut dilakukannya bertujuan untuk menambahkan angka sitasi penelitiannya.
Acara webinar ditutup oleh moderator. Ia mengatakan bahwa dua minggu lagi akan diadakan kembali webinar Jurusan Kimia FMIPA Untan, yakni pada 24 Oktober 2020.
“Mudah-mudahan seminar kita memberikan pencerahan dan kontribusi yang terbaik untuk bangsa kita. Kemudian tanggal 24 Oktober nanti ada seminar lagi, temanya adalah membangun jejaring riset internasional,” tutup moderator.