Ukir Prestasi Tiada Henti

“Bagi para pembelajar sejati, seteguk ilmu yang diminum, akan melahirkan dahaga atas ilmu yang baru lagi. Keingintahuan mereka terhadap ilmu tak pernah terpuaskan. Dan saya kira, ini dahaga yang paling indah, yakni dahaga ilmu pengetahuan.” (Ahmad Rifa’I Rif’an)

 

Halo mahasiswa MIPA. Semoga kita senantiasa mencintai ilmu, karena kita adalah calon-calon saintis hebat. Yuk kita intip siapa saja yang berhasil mengukir prestasi di bulan September 2017.

Kampus MIPA patut berbangga karena memiliki mahasiswa-mahasiswa yang jago banget nulis karya tulis. Adalah Barrata (Biologi 2014) dan Cristiar Samosir (Biologi 2014) yang berhasil meraih Juara III dalam ajang Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional yang diadakan oleh Institute Teknologi Bandung pada 14-17 September 2017. Penelitian yang mereka angkat yakni “Upaya Konservasi Ikan Endemik Melalui Bank Sperma dan Ovum (BASO) Ikan di Indonesia”. Ide ini terinspirasi dari pengalaman travelling. Kok bisa? Jadi ceritanya kedua teman kita ini suka jalan-jalan. Nah, bukan cuma jalan-jalan, tapi mereka juga mencoba untuk peka terhadap permasalahan-permasalahan di sekitar daerah yang mereka lewati. Hasil dari jalan-jalan inilah yang kemudian mereka jadikan karya tulis. Keren kan?

“Sebenarnya penelitian ini didasari oleh pengalaman selama jalan-jalan. Hobi lihat-lihat ikan. Apalagi waktu kerja praktek di tempat yang banyak ikan.”

Perlu kamu tahu guys, dari penuturan Barrata, ikan-ikan endemik ini sudah mengalami penurunan. Salah satunya disebabkan oleh perusahaan-perusahaan seperti kelapa sawit dan perusahaan tambang. Adanya perusahaan-perusahaan ini membuat populasi ikan endemik semakin berkurang. Selain berhasil Juara III, penelitian mereka juga mendapat penghargaan sebagai “Ide Paling Bermanfaat Tahun 2017 se-Indonesia”. Hebat.

Buat kamu yang penasaran sebenarnya apasih output dari penelitian mereka? Singkatnya gini,  penelitian ini dilakukan untuk memperbanyak ikan endemik dengan memanfaatkan sperma-sperma induk jantan dan ovum-ovum induk betina. Sehingga hasil akhirnya adalah restocking ikan-ikan endemik yang mengalami penurunan.

Apakah Barrata dan Cristiar sudah sering ikut LKTI?

“Saya sudah 2 kali ikut LKTI. Pertama, waktu Dies Natalis Untan 2017, dan dapat Juara 1, sedangkan Cristiar Juara 3. Karena itu saya jadi semangat juga untuk ikut LKTI di tingkat nasional. Kemarin yang kedua, di ITB, dan berhasil Juara 3.”

Tipsnya dari Barrata dan Cristiar buat kamu guys, “Tidak perlu terlalu sering ikut LKTI tapi sekali kita ikut sesuatu yang kita jadikan tulisan adalah permasalahan-permasalahan yang kita lihat di lapangan sehingga kita bisa lebih semangat dalam menulis dan dapat feel-nya. Itulah yang membuat karya kita bisa diterima.”

Proses penulisan sendiri mereka kerjakan sekitar 4 hari. Kalau studi literaturnya sudah dilakukan selama beberapa bulan.

Well guys, ada pesan nih dari Barrata dan Cristiar untuk kalian. “Buat teman-teman yang pengin juga nulis KTI, kalian harus mencari pengalaman. Saya pribadi tidak bisa nulis kalau tidak turun langsung. Supaya ada semangatnya pas nulis.”

Barrata juga sudah menyiapkan karya tulis ilmiah untuk apply ke Universitas Andalas bulan Oktober 2017 mendatang. Dalam membuat karya tulis ilmiah rata-rata mereka membaca sebanyak 40 jurnal. Guys, kamu boleh banget belajar dari kedua teman hebat kita ini ya.

Kalo Barrata dan Cristiar penelitiannya berkisar pada ilmu Biologi, beda halnya dengan tiga anak muda hebat ini. Adalah Wahyu Febri Ramadhy (Kimia 2013), Rizky (Kimia 2016), dan Eka Pebri Malinda (Kimia 2015) yang berhasil meraih Juara I diajang Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional yang diadakan oleh Universitas Padjajaran pada 21-23 September 2017. Penelitian yang mereka angkat yakni “Aplikasi Membran Ultrafiltrasi Cellulose Acetate-Activated Carbon (CA-AC) Berbahan Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) untuk Pengolahan Limbah Cair Kelapa Sawit”. Proses pembuatan KTI, mereka kerjakan sekitar 2 minggu. Uniknya, selama proses pengerjaan, mereka tidak pernah bertemu secara langsung. Kok bisa? Jadi gini, karena memiliki kesibukan yang berbeda-beda, mereka hanya berdiskusi via online. Kumpulnya hanya waktu karya tulis mereka dinyatakan lolos. Keberhasilan mereka pun tak luput dari dosen pembimbing yang luar biasa yaitu Ibu Intan Syahbanu, S.Si, M.Si. Beliau merupakan dosen Kimia di bidang Kimia Fisika dan memiliki riset tentang pembuatan membran.

“Kami sangat beruntung memiliki dosen pembimbing yang ahli dan berpengalaman mengenai topik yang kami angkat ini.”

Wahyu juga menuturkan bahwa atmosfer menulis karya tulis ilmiah ini sudah sangat kental di MIPA tak terkecuali di Jurusan Kimia.

“Kami sudah didoktrin serta sangat didukung oleh dosen-dosen dan disuguhi prestasi senior yang sangat membantu untuk menjaga semangat kami.”

Apa sih motivasi ketiga anak muda ini ikut KTI?

“Motivasi terbesar adalah jalan-jalan keliling Indonesia dengan menulis. Bahkan pada lomba tersebut kami sangat bersemangat untuk bisa jalan-jalan ke farm house seperti yang tertera di panduan field-trip-nya.” Nah, buat kamu yang pengin banget jalan-jalan gratis lewat nulis bisa banget kok. Mereka sudah membuktikan.

Nah, sahabat MIPA ada tips dari Eka, Wahyu, dan Rizky buat kamu.

Eka : “Tipsnya buat teman-teman, harus rajin, tekun, ulet, sabar, dan selalu berdoa.”

Rizky : “Harus niat dulu, banyak-banyak bertanya sama orang yang lebih paham LKTI, baik itu teman, senior, atau dosen. Jangan lupa restu orangtua dan yang paling penting adalah aksi.” (kalau ada niat tapi gak ada aksi, gak akan jadi fullpaper-nya)

Wahyu : “Berjuang untuk menulis dengan sebaik-baiknya. Kerena semua sudah termaktub dan setidaknya kita menjadi orang yang pernah berjuang. Kalah dan menang di suatu kompetisi itu biasa. Yang luar biasa adalah ketika karya kita berhasil jadi dan dikirim.”

Setelah beberapa kali apply karya tulis, khususnya di tingkat nasional, Alhamdulillah, bulan ini mereka diberi kesempatan buat menang. Eka sendiri sudah 4-5 kali kirim tapi yang lolos baru ini. Rizky sudah 6-7 kali apply. Wahyu untuk nasional sudah 6 kali. Tiga kali jadi finalis dan presentasi dan baru kali ini diberikan kesempatan jadi juara. Untuk tingkat Kal-Bar sudah banyak dan Alhamdulillah beberapa kali jadi juara.

Akhirnya, apapun impian yang ingin kamu wujudkan, bekerja keraslah dan jangan lupa berdoa.

Keep learning and do not ever give up, the beginning is always the hardest (Anonim)

 

Salam saintis,

Yuyun

Leave a reply